Memasyarakatkan Asuransi di Indonesia

JAKARTA: PT Asuransi Bintang Tbk menyatakan akan tetap konsisten menjadi salah satu pemain utama asuransi terorisme dan sabotase (TS), meskipun pesaing baru mulai berdatangan.

Presdir Bintang Zafar Dinesh Idham mengakui sepanjang 2009 terjadi penurunan premi bruto yang dipicu penurunan terbesar di bisnis TS akibat terjadinya perubahan preferensi dari salah satu pelanggan besar yang kemudian menggunakan grup bisnisnya sendiri.

Dia mengatakan sebenarnya permintaan penutupan risiko tersebut dari tertanggung baru menguat, tetapi penurunan pendapatan bisnis TS juga disebabkan melemahnya harga premi. “Turunnya harga premi karena resesi juga melemahnya pasar akibat persaingan dari masuknya beberapa pemain baru,” tutur Zafar di sela-sela public expose Bintang di Jakarta, Kamis.

Meski tahun ini mencetak kinerja yang tidak terlalu memuaskan, Zafar yakin produk ini kedepan masih memiliki prospek yang cerah. Dia menjelaskan ledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu telah menunjukkan bahwa produk itu memiliki manfaat nyata kepada tertanggung.

“Produk TS sudah menjadi produk yang nyata. Selama 10 tahun yang lalu produk itu bisa dikatakan hanya produk kertas, tertanggung membayar tanpa merasakan manfaat. Namun, dengan kejadian itu manfaat asuransi teruji,” tuturnya.

Bintang menanggung kerugian material dan business interruption JW Marriott dengan eksposure US$5 juta. Perseroan sudah menyerahkan interim payment pertama sebelum 1 bulan sejak kejadian.

Perusahaan asuransi itu membayar kerugian material US$1,3 juta dan saat ini secara bertahap 2 bulan sekali membayar kerugian akibat gangguan bisnis, sehingga total yang sudah dibayarkan sekitar US$2,3 juta.

“Tertanggung menyerahkan laporan bisnis selama 2 bulanan yang kemudian kami audit bersama adjuster. Itu kami lakukan sampai 36 bulan atau sampai nilainya US$5 juta,” ujarnya.

Selain JW Marriott, Bintang juga membayar beberapa klaim besar tahun ini antara lain klaim CV Aroma di Medan sebesar Rp76 miliar. “Kami membayar klaim dengan cepat, ini tidak luput dari peran dan dukungan reasuradur yang andal dan mempunyai rating dan reputasi baik,” tuturnya.

Perseroan menargetkan 2010 bisa mendayagunakan teknologi secara terpadu ke semua proses bisnis. Selain itu, Bintang juga meningkatkan produktivitas dengan menetapkan sasaran pertumbuhan gross premium income (GPI) di atas 15%, klaim bersih 10% dari GPI, dan hasil underwriting 23% dari GPI.

Kinerja tersebut diharapkan mampu memperbaiki laba bersih perseroan hingga menjadi positif tahun depan setelah akhir 2009 perusahaan memprediksi rugi bersih Rp3,5 miliar. “Kami akan mengupayakan agar laba itu tidak negatif lagi, target labanya tipis, tidak lebih dari Rp5 miliar.”

Dia menjelaskan tahun depan perusahaan berniat mengurangi alokasi investasinya di properti dari sebesar 46,6% menjadi 26,4% dari keseluruhan portofolio investasinya. Sisa perubahan alokasi tersebut akan dialihkan ke portofolio investasi pada obligasi dan deposito.

Sebelum berubah, komposisi investasi perusahaan berupa deposito berada pada level 34,5%, obligasi sebesar 17,6%, reksa dana sebesar 1%, dan saham sebesar 18,6%.

Zafar mengatakan perusahaan juga menanggung kerugian sebesar Rp11 miliar, sehingga berniat memperkecil porsi investasinya di saham tahun depan.

Perusahaan, lanjutnya, baru berniat masuk ke saham lagi apabila risk based capital perusahaan telah mencapai di atas level 180. (21)

Oleh : Hanna Prabandari
Sumber :
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/keuangan/1id152085.html Sumber :
http://www.asuransibintang.com/index.php?option=com_content&view=article&id= 120%3Anewsflash-1&catid=3%3Anewsflash&Itemid=88〈=en

%d bloggers like this: